<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6506440410131409742</id><updated>2012-02-15T22:55:10.728-08:00</updated><category term='wong prihatin bangsa'/><category term='irawan'/><category term='ramuan ker...'/><title type='text'>damai aremania</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05791167104704285195</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfXoJRUt-I/AAAAAAAAAAg/jT1GSqjaLtg/S220/DSCF1279.JPG'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>4</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6506440410131409742.post-2068408906608765320</id><published>2009-01-26T20:17:00.000-08:00</published><updated>2009-01-26T21:17:44.177-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='wong prihatin bangsa'/><title type='text'>PRIYAYI AGUNG YANG DEMOKRAT</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SX6YUOG9tfI/AAAAAAAAABY/3D016FlqQjE/s1600-h/sri_sultan_hb_x.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 145px; height: 200px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SX6YUOG9tfI/AAAAAAAAABY/3D016FlqQjE/s320/sri_sultan_hb_x.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295837684986394098" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sri Sultan Hamengku Buwono X&lt;br /&gt;     &lt;/p&gt;       &lt;h1&gt;Priyayi Agung yang Demokrat&lt;/h1&gt;&lt;br /&gt;     Ia raja yang dikenal dekat dengan rakyatnya. Menurutnya, keberpihakan pada        rakyat itu harus dilakukan sebagai suatu panggilan. Raja yang demokrat ini        berperan penting dalam bergulirnya reformasi dengan deklarasi Ciganjur        bersama Gus Dur, Megawati dan Amien Rais. Namun, ia kini gelisah melihat        petinggi negeri ini yang tidak bersikap kesatria mau mengakui kesalahan        jika memang bersalah. Priyai agung yang merakyat ini menjadi salah seorang        kandidat Presiden pada Pemilu 2004.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Lahir dengan nama Bendoro Raden Mas Herjuno Darpito pada tanggal 2 April        1946. Setelah dewasa bergelar Kanjeng Gusti Pangeran Haryo (KGPH)        Mangkubumi dan setelah diangkat sebagai putra mahkota diberi gelar KGPAA        Hamengku Negara Sudibyo Raja Putra Nalendra Mataram. Lulusan Fakultas        Hukum UGM ini dinobatkan sebagai raja di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat        dengan gelar Sri Sultan Hamengku Buwono X pada tanggal 7 Maret 1989 (Selasa        Wage 19 Rajab 1921) mengantikan ayahnya, Sri Sultan HB IX yang meninggal        di Amerika, Oktober 1988. Kemudian menjabat Gubernur Daerah Istimewa        Yogyakarta, sejak 3 Oktober 1998.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Aktif dalam berbagai organisasi yaitu ketua umum Kadinda DIY, ketua DPD        Golkar DIY, ketua KONI DIY, Dirut PT Punokawan yang bergerak dalam bidang        jasa konstruksi, Presiden Komisaris PG Madukismo, dan pada bulan Juli 1996        diangkat sebagai Ketua Tim Ahli Gubernur DIY.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Jika singgah di Jogjakarta, barangkali akan mengunjungi Malioboro, yang        menyuguhkan hidangan khas daerah itu. Namun, persinggahan akan terasa        belum pas jika tidak melangkahkan kaki ke Keraton Jogjakarta, kurang lebih        lima ratus meter ke arah selatan Malioboro. Sekilas, Keraton Jogjakarta        memang tampak “angker”. Betapa tidak! Di pelatarannya terdapat dua        beringin nan rimbun berpargar (ringin kurung). Sedangkan di pelataran        belakang, juga tampak dua beringin yang menjulang tinggi. Konon, beringin        itu menjadi “simbol” kebesaran Keraton.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Keraton Jogjakarta memang menyimpan beragam kebesaran sejarah. Di masa        kolonial, Keraton pernah menjadi benteng pertahanan dari penjajahan        Belanda. Pada masa revolusi, keraton juga menjadi “Istana Presiden”,        tatkala Jogjakarta sempat menjadi ibu kota Republik Indonesia. Bahkan,        ketika maraknya demontrasi mahasiswa menyerukan Presiden Seoharto lengser        keprabon, keraton kembali menjadi ajang bagi mahasiswa dan masyarakat        Jogja untuk menggelar pisowanan ageng (“apel akbar”) mendukung gerakan        reformasi guna memperkuat kepemimpinan nasional yang sungguh-sungguh        memihak rakyat.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Kini, di balik kebesaran keraton itu, terdapat tokoh sentral yang menjadi        “decesion maker”-nya: Sri Sultan Hamengku Buwono X. Ia lahir dan        dibesarkan di lingkungan keluraga yang sarat keberpihakannya kepada rakyat.        Bahkan di kalangan masyarakat Jogja, tokoh ini pun dipuja sekaligus “disembah”.     &lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Sejak menggantikan ayahnya, Sri Sultan Hamengku Buwono IX yang meninggal        di Amerika, 8 Oktober 1988, Ngersa Dalem, demikian ia biasa disapa,        dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyatnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Dalam suatu kesempatan, ia pernah mengatakan, keberpihakan pada rakyat itu        tetap harus dilakukan sebagai suatu panggilan. “Saya harus membentuk jati        diri untuk tumbuh dan mengembangkan wawasan untuk keberpihakan itu sendiri        sebagai suatu kewajiban yang harus dilakukan. Selain itu, masyarakat juga        agar mengetahui setiap gerak langkah saya dalam membentuk jati diri, dan        rakyat diberi kesempatan untuk melihat bener atau tidak, mampu atau tidak,        sependapat atau tidak, dan sebagainya”, ujuarnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Keberpihakannya pada rakyat ini memang terbukti. Pada 14 Mei 1998, ketika        gelombang demontrasi mahasiswa semakin membesar, Sultan mengatakan, “Saya        siap turun ke jalan”. Ia benar-benar tampil dan berpidato di berbagai        tempat menyuarakan pembelaan pada rakyat, sambil berpesan “Jogja harus        menjadi pelopor gerakan reformasi secara damai, tanpa kekerasan”.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Aksi turun ke jalan yang dilakukan Sri Sultan HB X itu bukan tanpa alasan.        “Jika pemimpin tidak benar, kewajiban saya untuk mengingatkan. Karena        memang kebangetan (keterlaluan), ya tak pasani sesasi tenan (ya saya        puasai sebulan penuh)”, katanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Puasa itu dimulai 19 April dan berakhir 19 Mei 1998 saat Sri Sultan HB X        dan Sri Paku Alam VIII tampil bersama menyuarakan “Maklumat Yogyakarta”,        yang mendukung gerakan reformasi total dan damai. Itu yang dia sebut        ngelakoni. Pada akhir puasa, ia mengaku mendapat isyarat kultural        “Soeharto jatuh, manakala omah tawon sekembaran dirubung laron sak        pirang-pirang” (sepasang sarang tawon dikerumuni kelekatu dalam jumlah        sangat banyak).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     “Bukan maksud saya mengabaikan peran mahasiswa. Saya hanya mendukung        gerakan itu dengan laku kultural. Itu maksud saya”. Memang, sehari setelah        banjir massa yang jumlahnya sering disebut lebih dari sejuta manusia di        Alun-alun Utara Jogjakarta—mengikuti Aksi Reformasi Damai dengan        mengerumuni sepasang berigin berpagar (ringin kurung)—Soeharto pun lengser.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Sri Sultan HB X dengan Keraton Jogjakarta-nya memang fenomenal.        Kedekatannya dengan rakyat, dan karena itu juga kepercayaan rakyat        terhadapnya, telah menjadi ciri khas yang mewarisi hingga kini. Lihat saja,        misalnya, pada 20 Mei 1998, di bawah reksa Sultan, aparat keamanan berani        melepas mahasiswa ke alun-alun utara. Sebelum itu hampir setiap hari        mahasiswa bersitegang melawan aparat keamanan untuk keluar dari kampus.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Di pagi hari yang cerah di hari peringatan Kebangkitan Nasional 1998 itu,        mahasiswa berbaris dengan amat tertib menyuarakan “mantra” sakti reformasi        menuju Alun-alun Utara. Mereka pergi untuk mendengarkan maklumat yang akan        dibacakan sebagai semacam pernyataan politik Sri Sultan.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Di era reformasi, bersama Gus Dur, Megawati dan Amien Rais, Sultan        Hamengku Buwono X menjadi tokoh yang selalu diperhitungkan. Legitimasi        mereka berempat sebagai tokoh-tokoh yang dipercaya rakyat bahkan melebihi        legitimasi yang dimiliki lembaga formal seperti DPR. Mereka berempat        adalah deklarator Ciganjur, yang lahir justru ketika MPR sedang melakukan        bersidang. Mereka berempat, plus Nurcholis Madjid dan beberapa tokoh        nasional lain, diundang Pangab Jenderal TNI Wiranto untuk ikut        mengupayakan keselamatan bangsa, setelah pristiwa kerusuhan di Ambon.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Namun, selang beberapa tahun kemudian, keempat tokoh Ciganjur itu “pecah”        dan tampak berjalan sendiri-sendiri. Bahkan salah satu di antaranya saling        hujat-menghujat. Kondisi ini sempat menimbulkan gejolak politik di tanah        air. Sri Sultan Hamengku Buwono X yang dikenal “netral” di antara berbagai        kepentingan partai politik dan pemerintah, akhirnya mempertemukan        tokoh-tokoh Ciganjur itu, plus Akbar Tanjung, pada 1 Agustus 2000 di        Keraton Jogjakarta.&lt;br /&gt;     Menghadapi gejolak reformasi, Sultan memang menyikapinya tidak hanya        dengan pemikiran, pendirian, dan tindakan politik, tetapi juga dengan laku        kultural. “Bukan maksud saya mengabaikan peran mahasiswa. Saya hanya        mendukung gerakan itu (reformasi) dengan laku kultural”, katanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Laku kultural perlu untuk melengkapi pertimbangan dan tindakan rasional.        Dengan laku kultural, bukan hanya pikiran tapi hati akan ditajamkan,        sehingga hati itu bisa mengajari kita untuk menangkap sasmita (gegulang        sasmitarja), dan memberitahu kita, bahwa budi kita juga mengandung pekerja        kewaspadaan (jero budi ana surti), agar kita hidup berhati-hati.&lt;br /&gt;     Justru di situlah sumbangan Sri Sultan secara khas pada reformasi. Dengan        pandangan kulturalnya, ia dibantu untuk melihat bahwa reformasi bukan        sekadar memperjuangkan kebebasan untuk bisa sebebas-bebasnya, tetapi        mentautkan kebebasan itu dengan kehati-hatian dan kewaspadaan, agar        masyarakat yang ada juga berkat ikatan-ikatan kultural-tradisional tidak        begitu saja diporakporandakan.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Sejak terpilih sebagai Gubernur DIY pada 3 Oktober 1998, Sri Sultan memang        dikenal sebagai sosok yang “netral” di antara berbagai kepentingan partai        politk dan pemerintah. Karenaya, Sultan banyak diundang dalam        seminar-seminar untuk membeberkan wawasan kebangsaannya.&lt;br /&gt;     Dalam suatu kesempatan, Sultan pernah mengatakan, wawasan kebangsaan masa        depan seharusnya merupakan pandangan proaktif untuk membangun bangsa        menuju perwujudan cita-cita bersama sebagai suatu bangsa yang mandiri dan        mampu mengembangkan inovasi iptek bangsa sendiri, agar memiliki keungulan        daya saing yang tangguh di percarutan global. “Itulah sebagian wawasan        kebangsaan beserta nilai-nilai kebangsaan yang ditemukan dan pantas        dikembangkan di dalam Gerakan Mahasiswa sebagai pengikat semangat        kebersamaan ke depan”, katanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Namun, pemahaman tentang kebangsaan itu memang banyak hal yang perlu        dipertanyakan: apakah suatu kebijakan dan program dapat dikatakan        berwawasan kebangsaan atau tidak; Atau apakah setiap kelompok masyarakat        dan organisasi, berikut partai-partai baru, telah berwawasan kebangsaan        atau tidak. Dengan penghayatan paham kebangsaan yang seperti itu,        menurutnya, kita dapat mendukung penataan organisasi-organisasi sosial        politk, yang terbuka dan bersifat inklusif bagi seluruh warga negara.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Karena itu, Sultan menyarankan, untuk memantapkan rasa kebangsaan pada        seluruh bangsa haruslah menyentuh rasa keadilan, agar dapat terbentuk rasa        kebersamaan yang bulat. Dalam rangka itu, aktualisasinya adalah bahwa        berbagai kesenjangan harus dipersempit, bahkan sedapat mungkin ditiadakan.        “Kita melihat ada beberapa macam kesenjangan; kesenjangan antardaerah,        antarsektor dan antargolongan ekonomi, termasuk di dalamnya kesenjangan        dalam kesempatan berusaha”, tuturnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Dalam memasuki abad ke-21 di Era Globalisais yang ditandai oleh kompetensi        antarbangsa yang semakin ketat ini, agar kita mampu bertahan, maka        kesadaran terhadap wawasan kebangsaan dengan jiwa-semangat dan muatan roh        baru yang lebih sesuai dengan tantangan zaman harus kita kembangkan serta        tetap menjadi tekad dan komitmen total seluruh rakyat dan bangsa.&lt;br /&gt;     Menurut Sultan, wawasan dan rasa kebangsaan yang melahirkan nasionalisme        baru sebagai agenda juang bangsa Indonesia bukan lagi diikrarkan dengan        sumpah mati atau melulu hanya berunjuk rasa. Akan tetapi, jiwa-semangat        nasionalisme baru masa kini adalah bagaimana kita dapat mengejar        ketertinggalan di bidang iptek serta memberikan makna dan manfaatnya bagi        kehidupan yang lebih adil dan sejahtera.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Disatu sisi kita harus meningkatkan kemampuan kualitatif dalam semua aspek        kehidupan, dan disisi lain, mempertahankan jati-diri dan mengangkat harkat        serta martabat kemanusiaan Indonesia dalam pergaulan dunia. “Untuk itu,        agenda juang Nasionalisme Baru Bangsa Indonesia haruslah arif dan cerdas        dalam menangkap peluang serta memanfaatkan momentum transformasi global        dan reformasi nasional dengan mengkaitkan dimensi iptek, politik, ekonomi        dan budaya satu sama lain dalam padanan yang seimbang”, ujarnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Budaya Kuasa&lt;br /&gt;     Secara verbal, masyarakat Indonesia dididik untuk bersikap kesatria,        mengakui salah jika memang bersalah. Tetapi, ketika pembantu-pembantu        presiden yang jelas-jelas bersalah dan kesalahan itu telah diketahui        publik, ternyata tidak satu pun di antara mereka yang dengan rendah hati        berani mengakuinya serta meminta maaf. Apalagi mengundurkan diri dengan        sukarela sebagai rasa tanggung jawab moral kepada publik. Sultan Hamengku        Buwono (HB) X, mengemukakan hal itu dalam pidato kebudayaan untuk        memperingati 34 tahun Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki (PKJ-TIM)        di PKJ-TIM, Selasa (5/11/02).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Bahkan, para pembantu presiden yang salah itu, pada kenyataannya        dilindungi. Tidak jarang mereka justru malah balik menantang publik dengan        berkata, 'Silakan buktikan kalau saya bersalah'. Ini semua justru        menunjukkan, bukan nilai tepa sarira (tenggang rasa yang mereka anut,        tetapi lebih menonjolkan sikap nanding sarira (membanding-bandingkan),        berbasis egoisme sapa sira sapa ingsun (siapa kamu, siapa saya), serta        menunjukkan sikap budaya kuasa," kata HB X yang juga Gubernur Daerah        Istimewa Yogyakarta (DIY).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Dalam kaitan itu, HB X dalam pidato bertajuk "Meluruskan Kembali Makna        Nilai-nilai Budaya Jawa" menegaskan bahwa kenyataan semacam itu telah        menjadikan tidak tumbuhnya budaya mundur di kalangan pejabat Indonesia.        Padahal, mereka nyata-nyata secara etis bersalah dan kesalahannya juga        sudah menjadi rahasia umum.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Kenyataan tersebut pada gilirannya akan semakin melumpuhkan kekuatan dan        supremasi hukum. "Sangat terasa, tata krama politik kita lebih bersifat        hierarkis-struktural ketimbang kultural. Semangat tepa sarira malahan        disalahartikan untuk juga tepa sarira terhadap pejabat yang melakukan        penyelewengan."&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Mengatur kultur&lt;br /&gt;     HB X yang pada kesempatan itu menyatakan dirinya tampil sebagai seorang        budayawan dari Keraton Yogyakarta, kemudian mengutip sebuah teori yang        mengatakan, siapa menguasai struktur ia mengatur kultur.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Oleh karena itu, HB X mengingatkan, "Selama ini kita telah tercebur ke        dalam lumpur konformisme budaya melalui eksploitasi simbol-simbol budaya        Jawa yang salah kaprah. Ini semua membawa akibat terjadinya monopoli        kebenaran. Apa yang sudah kaprah atau terbiasa, tafsir yang 'salah' pun        menjadi lazim dan tanpa sadar justru dibenarkan. Maka, jadilah budaya Jawa        yang salah kaprah itu menyelinap ke segenap kehidupan bangsa."&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Ajaran Jawa mikul dhuwur mendhem jero, misalnya, makna sesungguhnya adalah        menghormati leluhur, terlebih kepada orangtua yang telah meninggal dengan        cara tidak mengungkit kesalahan, namun mengingat kebaikan. "(Sekarang-Red)        Mikul dhuwur mendhem jero jadi salah kaprah, dikenakan bagi orang yang        masih hidup, khususnya pemimpin. Kalaupun dia melakukan tindak        penyelewengan, hendaknya dimaafkan dan dilupakan," katanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     HB X juga mengatakan, dalam peta politik nasional, alam pikiran Jawa        pernah dominan. Kebudayaan Jawa menjadi pola bagi seluruh rangkaian        kehidupan berbangsa dan bernegara. Dominasi itu misalnya terlihat dalam        kosa kata bahasa Jawa. Menyitir pendapat budayawan Franz Magnis-Suseno, HB        X mengatakan, pengaruh jawanisasi begitu kuat hingga menimbulkan "Jawanisasi        tata krama komunikasi nasional."&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Ia menambahkan, pembangunan yang mengenyampingkan dimensi kebudayaan akan        membawa masyarakat pada tiga kesalahpahaman umum, yakni tidak mengetahui,        salah asumsi, dan salah penerapan. Sebagai akibat tidak mengetahui secara        tepat pemaknaannya, pembangunan menjadi tidak tepat sasaran, bahkan        cenderung terbalik.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Di sisi lain, HB X melihat, pada masa Orde Baru ada sebuah fenomena        menarik, karena secara bersamaan juga bisa disaksikan kultur masyarakat        tidak sepenuhnya berada dalam cengkeraman struktur kekuasaan. "Terdapat        benih-benih reformasi dalam bentuk perlawanan budaya, oleh karena budaya        juga merupakan kekuatan sejarah," katanya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Perlawanan semacam itu muncul dari sebagian budayawan, seniman, dan ulama        yang menitikberatkan pada dimensi kultural-spiritual. Seiring dengan ini,        juga muncul perlawanan intelektual-realistik dari segolongan cendekiawan        dan mahasiswa yang ditunjukkan pada pembenahan aspek struktural.        Gerakan-gerakan tersebut di permukaan merupakan gerakan kultural-spiritual,        tetapi jangkauannya adalah gerakan sosial. Mengutip pendapat Dr        Kuntowijoyo, HB X menyebutkan, "Mereka berangkat dari perubahan cara        berpikir, tetapi tujuannya ialah perubahan perilaku...."&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Perlu "counter culture"&lt;br /&gt;     Agenda yang sekarang ini sangat mendesak adalah perlunya untuk membentuk        counter culture, yang mirip renaisans budaya-kebangunan kembali kebudayaan.        Gerakannya berupa pemurnian makna terhadap idiom-idiom budaya Jawa yang        selama ini telah cenderung dimanipulasi-tafsirkan, dan telah melekat        menjadi wacana politik dan budaya politik.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     HB X mengakui, generasi yang lahir di zaman informasi pasti kurang        mengenal kitab-kitab kuno, semisal Babad Tanah Jawi, Wulangreh, dan        Wedhatama. "Jujur saja, banyak di antara kita yang juga kurang paham        tentang apa yang dimaksud dengan lengser keprabon madeg pandhita serta        idiom-idiom dengan sederet manipulasi makna, atau setidaknya interpretasi        subyektif terhadap simbol-simbol budaya Jawa yang selama ini telah meresap        menjadi semacam budaya politik bangsa."&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Proses tersebut telah berlangsung lama dan terkait langsung dengan sistem        kekuasaan yang sentralistik di Jawa sehingga persoalan birokrasi dan        kebijakan pemerintahan daerah selalu diproses di pusat. Akibatnya,        pendistribusian pegawai atau pejabat ke daerah, terutama pada        bidang-bidang strategis, lebih banyak ditempati orang-orang Jakarta.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Atas dasar itu, kata HB X, untuk masa mendatang, menghargai dan        memperhatikan pluralisme budaya yang kita miliki serta membangkitkan        kembali identitas lokal merupakan keharusan strategis untuk kesatuan        nasional Indonesia, terutama di era otonomai daerah.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Gelar Sasangko Minangkabau&lt;br /&gt;     Sultan Hamengku Buwono X dan Ratu Hemas dari Ngayogyakarta Hadinigrat,        resmi menjadi mamak orang Minang. Dalam suatu Sidang Majelis Adat di        Istano Pagaruyuang, Batusangkar, Kabupaten Tanahdatar, Senin (29/4),        mereka dianugerahi gelar kehormatan Sangsako Adat Minangkabau dari pewaris        kerajaan Pagaruyuang, yang ditandai dengan pemasangan destar dan keris        kepada Sultan dan pemasangan takuluak bapalak dan selendang tanah liek        kepada Ratu Hemas.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Sultan bergelar Yang Dipatuan Maharajo Alam Sati (atau dalam bahasa        Indonesia Yang Dipertuan Maharaja Alam Sakti) dan Ratu Hemas bergelar Puan        Gadih Puti Reno Indaswari (Puan Gadis Putri Reno Inderaswari). Ia disebut        seorang sultan yang rendah hati, pengayom bagi masyarakat secara        keseluruhan dan masyarakat Minang khususnya.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Ketua Umum Kerapatan Adat Alam Minangkabau H Kamardi Rais Datuk P Simulie        dalam sambutannya mengatakan, pengangkatan Sultan Hamengku Buwono Yang        Dipatuan Maharajo Alam Sati sebagai mamak orang Minang di Yogyakarta,        karena antara Yogyakarta dan Bukittinggi (Sumatera Barat) terdapat        persamaan sejarah, mengambil peran yang sama sebagai ibu kota negara        Indonesia dalam keadaan darurat.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     "Ketika Belanda melakukan serangan besar-besaran terhadap Maguwo, pada        waktu subuh 19 Desember 1948 dan kemudian Yogya diduduki, maka pada saat        yang genting itu Bukittinggi tampil menggantikan peranan Yogyakarta,"        katanya.&lt;br /&gt;     Kemudian, ketika terbentuk negara Republik Indonesia Serikat (RIS), 14        Desember 1949, maka Yogyakarta dan Sumatera Barat sama-sama berteguh hati        tetap berada dalam Republik Indonesia, ditambah dengan daerah Tapanuli dan        Aceh.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Makna Keraton di Tengah Reformasi&lt;br /&gt;     Ribuan umat Islam Minggu malam (20/8/02) memadati Pagelaran Keraton        Yogyakarta dalam rangka Peringatan 254 Tahun Hadeging Nagari Ngayogyakarta.        Mereka semua memanjatkan doa agar Keraton di bawah Sultan Hamengku Buwono        X tetap lestari dan mampu mengajak masyarakat untuk terus berkembang maju,        mandiri dan ber-akhlakul karimah.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Acara Majelis Tasyakuran, Mujahadah Akbar dan Sema'an Al Qur'an juga        dihadiri GBPH Joyokusumo, jajaran Muspida Provinsi DI Yogyakarta dan        anggota DPRD DIY serta alim ulama se-Jawa, Lampung dan NTB. Sultan sendiri        tidak hadir karena ada acara di Solo dan sambutannya dibacakan oleh        permaisurinya, GKR Hemas.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Menurut Sultan, dalam konteks reformasi sat ini, Keraton Yogyakarta harus        mampu mereposisi diri dengan cara introspeksi. Hal itu perlu dilakukan,        melalui proses kreatif, jika tidak perjalanan kebudayaan akan mati.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Sebenarnya hal itu sudah lama mengusik pikiran Sultan adakah arti dan        makna sebuah keraton di tengah-tengah arus reformasi? Keberadaan Keraton        Yogyakarta adalah realitas historis yang memuat pesan kultural, berupa        karya nyata dan batiniah.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Melihat kenyataan ini, Sultan merasa prihatin. Bangsa yang selama ini        dicitrakan sebagai bangsa yang religius, telah berubah menjadi bangsa yang        mudah marah. Persoalan kecil selalu diselesaikan dengan kekerasan. Setiap        lapisan masyarakat selalu menganggap diri benar dan tidak mau menerima        perbedaan.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Kalau menurut versi panitia, angka 254 itu menunjuk hadeging nagari,        berdirinya kerajaan. Bukan menunjuk pada kondisi fisik keraton tetapi        sebuah wilayah kenegaraan, wilayah kekuasaan raja. Angka 254 itu mengacu        pada perhitungan kalender Jawa yang berbeda dengan kalender Masehi. "Menurut        hitungan tahun Jawa, saat ini (2001) baru menginjak tahun 1934, sehingga        peringatan kali ini bertolak pada angka 1680 tahun Jawa -hadeging nagari        Ngayogyakarta," demikian penjelasan Suhardi, staf Keraton Kilen Yogyakarta,        Senin (20/8).&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Pada masa itu Kerajaan Mataram masih bersatu dalam satu kerajaan di bawah        Sri Sunan Paku Buwono II. Sampai pada tahun 1750, Pangeran        Mangkubumi-kemudian HB I-sudah menguasai sebagian besar wilayah Mataram        yang waktu itu dalam cengkeraman Kumpeni Belanda.&lt;br /&gt;     Lewat Perjanjian Giyanti, 13 Februari 1755, wilayah Mataram dibagi dua,        Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta. Sebulan setelah pertemuan        di Giyanti itu, 13 Maret 1755 atau 29 Jumadilawal be 1680 tahun Jawa,        diumumkan berdirinya Negara Ngayogyakarta dengan kepala negara Sri Sultan        Hamengku Buwono bergelar Senapati Ing Ngalogo Ngabdurrachman Sayidin        Panatagama Kalifatulah I ing Ngayogyakarta.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Mbak Is, pemandu di Keraton Yogyakarta, menjelaskan, sebelum mendirikan        bangunan keraton, Mangkubumi atau Sultan HB I mula-mula bertempat tinggal        di Ambarketawang. "Ambarketawang letaknya di Desa Gamping sekitar empat        kilometer barat Kota Yogyakarta, sebelah barat Kali Bedog. HB I masuk ke        Ambarketawang 9 Oktober 1755 atau 3 Sura Wawu 1681. Di sana sampai        sekarang masih ada sisa-sisa peninggalan keraton HB I," kata Mbak Is.&lt;br /&gt;     Dari sana Sultan mencari tanah yang cocok untuk menjadi ibu kota        Ngayogyakarta. Pada akhirnya ditemukan Hutan Beringan di antara Kali        Winongo dan Kali Code. Sultan pun pindah, menempati keraton barunya pada        Kamis Pahing 13 Sura Jimakir 1682 atau 7 Oktober 1756.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Keberadaan (Keraton) Yogyakarta niscaya diawali dari seorang raja yang        mempunyai wawasan dan kearifan yaitu Sultan HB I yang tak mau tunduk        kepada Kumpeni. Mungkin tepat pula ujaran Sultan Hamengku Buwono X;        Keraton Yogyakarta sekarang ini harus melakukan introspeksi terhadap        keberadaannya agar selalu dapat menjawab tantangan zaman.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Bukan Pemerintahan Kerajaan&lt;br /&gt;     Penguasa Keraton Yogyakarta yang juga Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta        (DIY) Sultan Hamengku Buwono X menegaskan hadirnya undang-undang tentang        keistimewaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bukan dalam rangka        membentuk sebuah pemerintahan yang menuju pada pemerintahan Kerajaan atau        Keraton.&lt;br /&gt;   &lt;br /&gt;     Hal itu disampaikan Sultan dalam Rapat Paripurna DPRD Provinsi DPRD DIY        yang berlangsung di Gedung DPRD, Yogyakarta, Senin (9/9/02). Pasal 7 RUU        itu intinya mengatakan, penyelenggaraan pemerintahan di DIY didasarkan        pada prinsip penghormatan terhadap tradisi, nilai dan budaya yang sudah        lama dipertahankan dan berkembang di DIY. Namun, provinsi ini merupakan        sebuah Daerah Istimewa yang tunduk dan patuh pada prinsip penyelenggaraan        pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6506440410131409742-2068408906608765320?l=irawan-damaiaremania.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/feeds/2068408906608765320/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/priyayi-agung-yang-demokrat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/2068408906608765320'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/2068408906608765320'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/priyayi-agung-yang-demokrat.html' title='PRIYAYI AGUNG YANG DEMOKRAT'/><author><name>irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05791167104704285195</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfXoJRUt-I/AAAAAAAAAAg/jT1GSqjaLtg/S220/DSCF1279.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SX6YUOG9tfI/AAAAAAAAABY/3D016FlqQjE/s72-c/sri_sultan_hb_x.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6506440410131409742.post-894943983258494348</id><published>2009-01-24T18:16:00.000-08:00</published><updated>2009-01-24T18:32:55.980-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='ramuan ker...'/><title type='text'></title><content type='html'>&lt;h2 style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXvOj7uZ5UI/AAAAAAAAABA/f9z6yupR_fU/s1600-h/200612225422_kelor.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 166px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXvOj7uZ5UI/AAAAAAAAABA/f9z6yupR_fU/s200/200612225422_kelor.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5295052903627220290" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mukjizat Daun Kelor&lt;/h2&gt; &lt;div class="image"&gt; &lt;table align="left" border="0" cellpadding="0" cellspacing="0" width="250"&gt; &lt;tbody&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;img alt="Mukjizat Daun Kelor" src="http://www.blogger.com/index.php_files/200612225422_kelor.jpg" /&gt;  &lt;/td&gt;&lt;/tr&gt; &lt;tr&gt; &lt;td&gt;&lt;br /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;/div&gt; &lt;p&gt;Dunia memang tidak selebar daun kelor. Tapi, penyakit juga tak seluas daun  kelor. Buktinya, bagi daun kelor penyakit seperti rematik, cacinga, rabun ayam,  sulit buang air kecil, sampai luka bernanah dan sakit kuning, bukan hal sulit.  Sekali "sabet", daun kelor menyembuhkannya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelor (moringa oleivera) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki  ketingginan batang 7 -11 meter. Di Jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai  tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu  besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai  akar yang kuat. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun  majemuk dalam satu tangkai.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian  tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning  kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar  sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga  memanjang yang disebut klentang (Jawa). Sedang getahnya yang telah berubah warna  menjadi coklat disebut blendok (Jawa). Pengembangbiakannya dapat dengan cara  stek.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Nama Lokal :&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Kelor (Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Kerol (Buru); Marangghi  (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo); Keloro (Bugis), Kawano ( Sumba),  Ongge (Bima); Hau fo (Timor); &lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Khasiat&lt;/b&gt;:&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sakit Kuning&lt;/b&gt;. 3-7 gagang daun kelor, 1 sendok makan madu dan 1 gelas  air kelapa hijau. Daun kelor ditumbuk halus, diberi 1 gelas air kelapa dan  disaring. Kemudian ditambah 1 sendok makan madu dan diaduk sampai merata.  Diminum, dan dilakukan secara rutin sampai sembuh.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Reumatik, Nyeri dan Pegal Linu&lt;/b&gt;. 2-3 gagang daun kelor, 1/2 sendok  makan kapur sirih. Kedua bahan tersebut ditumbuk halus. Dipakai untuk obat gosok  (param).&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Rabun Ayam&lt;/b&gt;. 3 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk halus, diseduh  dengan 1 gelas air masak dan disaring. Kemudian dicampur dengan madu dan diaduk  sampai merata. Diminum sebelum tidur.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sakit Mata&lt;/b&gt;. 3 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk halus, diberi 1  gelas air dan diaduk sampai merata. Kemudian didiamkan sejenak sampai ampasnya  mengendap. Air ramuan tersebut digunakan sebagai obat tetes mata.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Sukar Buang Air Kecil&lt;/b&gt;. 1 sendok sari daun kelor dan sari buah ketimun  atau wortel yang telah diparut dalam jumlah yang sama. Bahan-bahan tersebut  dicampur dan ditambah dengan 1 gelas air, kemudian disaring. Diminum setiap  hari.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Cacingan&lt;/b&gt;. 3 gagang daun kelor, 1 gagang daun cabai, 1-2 batang  meniran. Semua bahan tersebut direbus dengan 2 gelas air sampai mendidih hingga  tinggal 1 gelas, kemudian disaring. Diminum.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Biduren&lt;/b&gt; (alergi). 1-3 gagang daun kelor, 1 siung bawang merah dan adas  pulasari secukupnya. Semua bahan tersebut direbus dengan 3 gelas air sampai  mendidih hingga tinggal 2 gelas, kemudian disaring. Diminum 2 kali sehari 1  gelas, pagi dan sore.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;b&gt;Luka bernanah&lt;/b&gt;. 3-7 gagang daun kelor. Daun kelor ditumbuk sampai  halus. Ditempelkan pada bagian yang luka sebagai obat luar. &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6506440410131409742-894943983258494348?l=irawan-damaiaremania.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/feeds/894943983258494348/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/mukjizat-daun-kelor-dunia-memang-tidak.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/894943983258494348'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/894943983258494348'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/mukjizat-daun-kelor-dunia-memang-tidak.html' title=''/><author><name>irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05791167104704285195</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfXoJRUt-I/AAAAAAAAAAg/jT1GSqjaLtg/S220/DSCF1279.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXvOj7uZ5UI/AAAAAAAAABA/f9z6yupR_fU/s72-c/200612225422_kelor.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6506440410131409742.post-1316283834284961337</id><published>2009-01-21T18:28:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T18:30:21.182-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfaMsXcBMI/AAAAAAAAAA4/e5T8C4v0pxU/s1600-h/AREMANIA.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 200px; height: 46px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfaMsXcBMI/AAAAAAAAAA4/e5T8C4v0pxU/s200/AREMANIA.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293939798600058050" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.ongisnade.net/2008/08/18/arema-bangkit/"&gt;&lt;strong&gt;Arema  Bangkit&lt;/strong&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="color:#808080;"&gt;&lt;em&gt;Lomba Menulis Artikel ONGISNADE.NET&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Arema pada waktu itu masih era mikitata, (pak tua) panos korwa cs, permainan arema sangat maknyus walaupun sokongan dana minim alias ”era nasi bungkusan” &lt;span id="more-257"&gt;&lt;/span&gt; tapi  masalah prestasi jangan ditanya, mulai dari juara galatama hingga pemain yang  mendapatkan sepatu bal emas. &lt;p&gt;Masalah prasarana transportasi arema memiliki bus yang dah tua dan sering mogok,malah ada cerita dulu waktu saya pulang sekolah ada bus melintas mirip bus arema langsung saya nggandol.dah masuk eh…ternyata yang saya tumpangi adalah bus sekolahan bhakti luhur lagi ngantar pulang murid-muridnya.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Arema waktu itu serba dilema,pernah waktu liga dunhill arema masuk 4 besar dan prestasi nayamul banget dan kemungkinan besar masuk final namun diluar dugaan arema kalah dengan persija padahal arema butuh seri.dari situ aremania berang,banyak pikiran dan pendapat negatif muncul. Ada yang bilang arema ”dijual” oleh manajemen ke persija supaya ngalah,karena sebelumnya para manejemen bertemu dengan pengusaha asal jakarta di sebuah cafee di jakarta.ada aremania yang menulis”ada apa dengan arema” ditembok tembok jalan besar kota malang.intinya aremania protes….&lt;/p&gt; &lt;p&gt;arema dilanda krisis keuangan para pemain belum digaji kurang lebih 3 bulan.dan manajemen kala itu kalau boleh saya bilang manajemen ”apa adanya”. Dan akhirnya arema mengalami kebangkrutan dan turun kasta ke divisi satu.dan para pemain sebagian besar eksodus ke kediri diikuti sebagian para official arema.&lt;br /&gt;Alhamdulillah Arema ”terselamatkan” dengan dipindah tangankan ke P.T.BENTOEL.semenjak itu arema mulai ada pembenahaan,perbaikan yang signifikan.dibawah manajemen yang profesional, arema mulai dikit demi sedikit mulai naik.dibawah asuhan Beny dolo arema juara divisi satu.dan juara copa berturut turut.luar biasa sambutan dari aremania kala itu.mulai dari pemain inti,pemain cadangan sampai official aremania licek hafal namanya.pokoknya sanjungan yang positif dari aremania.kaderisai pemain arema mulai jalan,pemain akademi arema mulai ditarik untuk menjadi pemain senior.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;strong&gt;Analisa &amp;amp; Prediksi Perjalanan Arema di ISL 08/09&lt;/strong&gt;&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Arema memasuki ISL 08/09 tampil dengan kekuatan muda”young guns”. dipertandingan perdana arema 2 kali tour diluar kandang bisa mengambil poin penuh.tatkala main dikandang arema hanya bisa mengambil poin satu dari 2 kali laga.aremania kecewa berat dan akhirnya berbuntut mundurnya sang pelatihBambang nurdiansyah dari kursi pelatih,dengan alasan tidak kuat dengan tekanan dari aremania.kompetisi sudah berjalan lagi lagi arema dihadapi dengan ujian yang luar biasa.namanya ujian pasti ada jawabanya dan ada jalan keluarnya yang intinya tidak boleh putus asa.dan semoga arema diberi pelatih yang punya tanggung jawab,pintar.cerdik dan otomatis lebih baik dari sebelumnya dari ALLOH S.W.T.amin ya robbal alamin.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dengan didukung manajemen yang profesional saya yakin arema mampu mengatasi persoalan yang ada hari ini,karena yang dihadapi bukan masalah financial tapi masalah pelatih yang cepat beradaptasi bisa meracik pemain yang udah ada dan para pemain muda.saya berpendapat ;&lt;br /&gt;1)manajemen arema tidak usah tergesa gesa mencari pelatih,karena masih ada djoko”getok”yang sudah teruji kesetiaanya.tentu sambil jalan manajemen sambil mencari pelatih berlisensi A,yang pas yang sesuai dengan karakter arema yang berhati singo dan tidak mutungan.&lt;br /&gt;2)manejemen,pelatih dan para pemain harus bisa menkondisikan kondisi yang tidak enak menjadi nyaman dengan suasana kekeluargaan.bahkan para istri pemain harus saling mengenal akrab dengan istri para pemain lainya dengan cara mengadakan rekreasi dialam bebas,arisan,rujakandll.&lt;br /&gt;3)manajemen harus terus  berusaha mencari sponsor pendamping selain bentoel,untuk mengarungi kompetisi  yang panjang ini.&lt;br /&gt;4)crew arema harus dekat dengan aremania.dan arema harus bersyukur mempunyai seporter yang luar biasa fanatik dengan banyak kreatifitasnya.dengan cara mengadakan dialog terbuka di kantor arema atau dimanapun tempatnya yang penting sausana mendukung dan tidak lupa disiarkan live oleh tv lokal supaya diketahui aremania di malang raya dan sekitarnya.dengan topik”arema berprestasi” atau yang lainya yang intinya memajukan arema.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Dan semua itu bisa terwujud,dan semua tergantung para pelaku dilapangan yang  bertanding.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Para pemain harus bermain selalu optimis dan mengedepankan kolektifitas/kebersamaan antar pemain,tidak indifidualis.pemain arema tunjukkan loyalitasmu di arema,arema tim besar dengan manejemen yang apik.ingat aremania ada didekatmu.ada arema ada aremania.&lt;/p&gt; &lt;p&gt;Prediksi saya arema bisa mengukir sejarah yaitu dengan juara isl 08/09 dan para pemain muda arema laris manis ditawari kontrak club lain. Para pemain arema banyak yang diambil untuk tim merah putih, insya alloh…amin&lt;/p&gt; &lt;p&gt;&lt;span style="color:#808080;"&gt;artikel ini dikirim oleh:&lt;br /&gt;Irawan Iwan&lt;br /&gt;&lt;em&gt;asraihan_2003@yahoo.co.id&lt;/em&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6506440410131409742-1316283834284961337?l=irawan-damaiaremania.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/feeds/1316283834284961337/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/arema-bangkit-lomba-menulis-artikel.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/1316283834284961337'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/1316283834284961337'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/arema-bangkit-lomba-menulis-artikel.html' title=''/><author><name>irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05791167104704285195</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfXoJRUt-I/AAAAAAAAAAg/jT1GSqjaLtg/S220/DSCF1279.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfaMsXcBMI/AAAAAAAAAA4/e5T8C4v0pxU/s72-c/AREMANIA.gif' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6506440410131409742.post-2582370137202090163</id><published>2009-01-21T17:49:00.000-08:00</published><updated>2009-01-21T18:00:33.375-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='irawan'/><title type='text'>DIA........</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfSv0xtz1I/AAAAAAAAAAM/na7vgvSgPuQ/s1600-h/DSCF1279.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 320px; height: 240px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfSv0xtz1I/AAAAAAAAAAM/na7vgvSgPuQ/s320/DSCF1279.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5293931606060158802" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;hatiku bahagia tatkala orang yang saya cintai bisa tersenyum...&lt;br /&gt;dan saya terus berusaha untuk melindungi sampai kapanpun..semoga&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6506440410131409742-2582370137202090163?l=irawan-damaiaremania.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/feeds/2582370137202090163/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/dia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/2582370137202090163'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6506440410131409742/posts/default/2582370137202090163'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://irawan-damaiaremania.blogspot.com/2009/01/dia.html' title='DIA........'/><author><name>irawan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/05791167104704285195</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfXoJRUt-I/AAAAAAAAAAg/jT1GSqjaLtg/S220/DSCF1279.JPG'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_tqwwcsmZUnM/SXfSv0xtz1I/AAAAAAAAAAM/na7vgvSgPuQ/s72-c/DSCF1279.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
